Sabtu, 11 April 2026

Pelepah Pisang Warisan dan Alternatif Peluang

Pelepah Pisang Warisan dan Alternatif Peluang

KARANGANYAR-peristiwa24.com
Pelepah pisang sering dipandang remeh sebagai sisa tanaman yang tak berguna. Padahal, di balik seratnya yang kasar tersimpan potensi besar untuk menjadi bahan baku anyaman bernilai tinggi dan ramah lingkungan. Di saat dunia bergulat dengan masalah sampah plastik dan naiknya harga bahan sintetis, pelepah pisang menawarkan jawaban sederhana namun kuat, memanfaatkan kearifan lokal untuk menciptakan produk fungsional yang indah, bernilai ekonomi, dan berkelanjutan (11/04/2026)

Tanaman pisang memiliki jejak panjang dalam sejarah manusia. Berasal dari Asia Tenggara dan Melanesia, pisang telah didomestikasi ribuan tahun lalu dan menyebar melalui jalur perdagangan ke berbagai benua. Dalam tradisi banyak komunitas, hampir seluruh bagian tanaman pisang bisa dimanfaatkan, buah yang mengandung banyak vitamin, daun untuk pembungkus dan upacara, batang untuk pakan dan bahan bangunan, serta pelepah untuk keperluan rumah tangga. Pemanfaatan pelepah bukanlah inovasi baru, melainkan kelanjutan dari praktik budaya yang menghargai setiap bagian tanaman tersebut, sebuah warisan yang kini dapat diangkat kembali untuk menjawab tantangan modern.

Dengan teknik pengolahan yang tepat, pemilihan pelepah, pengeringan, pemisahan serat, dan pemintalan menjadi tali, pelepah pisang bisa berubah menjadi material yang kuat, lentur, dan mudah diwarnai. Anyaman dari pelepah mampu menggantikan produk plastik sekali pakai seperti tas, wadah, dan aksesori rumah tangga maupun dekorasi interior. Keunggulan utamanya bukan hanya pada aspek lingkungan, produk anyaman membawa nilai estetika dan cerita, sehingga konsumen tidak sekadar membeli barang, melainkan juga mendukung ekonomi lokal dan pelestarian budaya.

Di antara para pengrajin yang menaruh harapan pada pelepah pisang, nama Sutiyono muncul sebagai simbol kegigihan. Ia bukan sekadar pengrajin, ia adalah penjaga tradisi yang melihat peluang besar di tengah krisis plastik. “Saya punya buyer besar yang siap menampung berapapun jumlah tali pelepah pisang yang bisa saya sediakan,” kata Sutiyono dengan nada penuh harap, saat ditemui awak media di workshopnya. Namun dibalik harapan itu tersimpan pula kegelisahan, dan tantangan ketersediaan bahan baku yang kurang terkoordinasi dan membuatnya kewalahan.

Sutiyono menggambarkan realitas yang sering luput dari perhatian, “Pelepah pisang memang melimpah, tetapi tersebar di lahan-lahan milik banyak orang yang belum menyadari nilainya.” ujar Sutiyono. Tanpa mekanisme pengumpulan, fasilitas pengeringan, dan modal untuk memperbesar kapasitas, keterampilan anyam yang dimilikinya akan sulit berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan. Ia membutuhkan lebih dari pesanan, ia membutuhkan ekosistem dan relawan tenaga kerja pengrajin yang mendukung.

Karenanya Sutiyono mengajak semua pihak, komunitas lokal, pemerintah, dan swasta, untuk bekerja sama. Ia menyarankan beberapa langkah praktis seperti melatih dan membentuk jaringan pengumpul pelepah yang melibatkan Bumdes, karang taruna, dan PKK, mendirikan unit pengolahan di tingkat desa untuk pengeringan dan pemisahan serat agar bahan baku lebih konsisten, serta memberi akses pembiayaan mikro supaya pengrajin bisa membeli atau membuat peralatan sederhana sekaligus menggaji tenaga tambahan.

Selain itu, Sutiyono turut menekankan pentingnya pelatihan teknis dan desain untuk meningkatkan nilai estetika produk dan daya saing di pasar, serta menerapkan kontrak bertahap dengan pembeli agar ada kepastian pasar sambil memberi waktu bagi peningkatan kapasitas produksi. Langkah‑langkah ini bukan hanya solusi teknis, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap kearifan lokal dan investasi untuk masa depan komunitas.

“Pelepah pisang mengajarkan kita sebuah pelajaran sederhana namun mendalam, nilai yang tinggi seringkali tersembunyi di tempat yang paling tak terduga. Transformasi limbah menjadi produk bernilai adalah tindakan kreatif yang menghubungkan tradisi, lingkungan, dan ekonomi.” ungkap Sri Widodo seorang relawan bersih sungai yang juga tertarik dengan pengolahan produk anyaman pelepah pisang. 

Di tangan pengrajin seperti Sutiyono, pelepah pisang bukan lagi sampah, melainkan bahan baku yang memancarkan harapan. “Ini adalah sebuah inspirasi guna menyiasati tingginya harga plastik sekaligus mendorong pemberdayaan masyarakat desa,” ujar Sri Widodo yang mendukung penuh langkah Sutiyono.

Jika komunitas, pemerintah, dan pelaku pasar bersinergi, kisah Sutiyono bisa menjadi awal dari gerakan yang lebih besar, gerakan yang mengubah cara kita memandang sumber daya lokal, mengurangi ketergantungan pada plastik, dan membuka peluang ekonomi bagi banyak keluarga di desa. “Inspirasi terbesar bukan hanya pada produk yang dihasilkan, melainkan pada semangat kolektif untuk mengubah masalah menjadi peluang.” ungkap Sri Widodo yang juga merupakan koordinator lapangan Umbul Sigedhang Klaten.

Pelepah pisang adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan, warisan budaya yang dapat diolah menjadi solusi modern. Kisah Sutiyono mengingatkan kita bahwa perubahan bisanya dimulai dari satu tangan yang terampil, satu komunitas yang bersatu, dan satu keputusan untuk melihat nilai lain di mana orang lain melihatnya hanya sebagai sampah. 

Mari kita dukung langkah-langkah nyata yang memberi ruang bagi pengrajin lokal untuk berkembang, karena ketika pelepah pisang menjadi sumber penghidupan, kita tidak hanya mengurangi sampah plastik. Namun kita juga menenun masa depan yang lebih berkelanjutan dan bermartabat.

( Pitut Saputra )

Artikel ini telah tayang di peristiwa24.com 

Selasa, 14 Oktober 2025

Workshop Kolaborasi Tanaman Pangan Alternatif Jali

Workshop Kolaborasi Tanaman Pangan Alternatif Jali 


KLATEN-ngantilalicaraneturu.com

Kesan pertama melihat bulir jali seringkali sederhana, tampak seperti serealia biasa, butuh pengolahan khusus supaya bisa menarik. Di balik penampilannya yang sederhana, jali menyimpan potensi besar baik sebagai olahan produk kerajinan souvenir maupun sebagai tanaman pangan alternatif yang serbaguna, mudah diolah, bernilai gizi, rendah kandungan gula, dan cocok dikembangkan di lahan kecil maupun pekarangan rumah. Untuk memperkenalkan potensi itu secara praktis dan aplikatif, Nurbertus Trisno Nugroho praktisi Jali dari Jo La Li Jali Klaten dan Ayu, pengrajin olahan kuliner berbahan ketan akan hadir berkolaborasi menghadirkan kuliner berbahan dasar bulir jali seperti tape dan puding dan aneka jenis lainnya. Mereka akan berbagi ilmu dan praktek langsung dalam sebuah workshop pada kegiatan Sri Kumbang Award #01 2025 Tangal 26 Oktober 2025. pukul 09.00 wib hingga 12.00 Win di Sri Kumbang Resto Lantai 2 bersamaan dengan Workshop Anyaman Rotan yang juga digelar berbarengan. Jadi Pengunjung bisa mendapat 2 ilmu sekaligus dalam workshop tersebut (13/10/2025)


Kenapa Jali Layak Dilirik

Jali bukan hanya alternatif bahan pangan, jali merupakan solusi bagi pengembangan produk pangan lokal yang adaptif terhadap kondisi lahan kering dan berbiaya rendah. Dengan pengelolaan yang tepat, jali dapat menjadi sumber karbohidrat yang tahan hama relatif baik, memerlukan input lebih sedikit dibandingkan tanaman pokok lain, serta memberi peluang diversifikasi pangan lokal. Workshop ini menempatkan jali bukan sekadar objek kajian, tetapi bahan baku yang bisa diolah menjadi produk bernilai tambah seperti makanan tradisional dan kreasi kuliner modern.


Narasumber dan Kolaborasi Praktis

- Nurbertus Trisno Nugroho Praktisi Jali menghadirkan perspektif agraris dan pemasaran kolaboratif dari Jo La Li Jali Klaten. Ia akan menjelaskan varietas jali yang cocok ditanam pada lahan sempit, teknik budidaya hemat input, dan cara memanen serta menyimpan bulir agar mutu pangan tetap baik.

- Ayu produsen tape dari Sekata Cafe akan membawa keahlian olahan ketan dan pengalaman transformasi bahan lokal Jali menjadi produk bernilai jual. Ia akan mempraktekkan proses pembuatan tape dari bahan dasar tanaman jali dan puding jali, teknik fermentasi yang aman, rasa dan tekstur, serta langkah praktis agar produk olahan jali siap dipasarkan.

Kolaborasi keduanya memastikan peserta akan mendapatkan pengetahuan lengkap mulai dari lapangan sampai meja makan, teknik tanam, pasca panen, resep olahan, hingga strategi pemasaran kolaboratif untuk menjual produk olahan jali.


Isi Workshop dan Manfaat Langsung

- Pengenalan jali: karakteristik tanaman, manfaat nutrisi, kandungan gula dan kelebihan sebagai tanaman alternatif untuk pekarangan dan lahan marginal.

- Teknik budidaya praktis: penanaman, pemeliharaan sederhana, pengendalian hama secara ramah lingkungan, dan metode panen yang efisien.

- Pasca panen dan pengawetan: pembersihan, pengeringan, dan penyimpanan bulir untuk menjaga mutu bahan olahan.

- Praktek olahan makanan: demonstrasi dan praktek pembuatan tape jali dan puding jali, langkah fermentasi, pemilihan komposisi rasa, dan variasi penyajian.

- Strategi pemasaran: ide packaging untuk produk berbasis jali, penentuan harga, teknik foto produk untuk penjualan online, dan peluang pasar lokal seperti pasar tradisional, kafe, serta toko oleh-oleh.

- Sumber bahan dan biaya: estimasi modal awal untuk produksi sampel, sumber bahan baku lokal, dan tips menekan biaya tanpa mengorbankan kualitas. Pemateri juga menyiapkan paket bahan Jali bila ada yang mau mencoba di rumah.

Peserta akan pulang tidak hanya dengan pengetahuan, tetapi juga contoh produk hasil praktik, resep, dan inspirasi untuk memulai usaha skala rumah tangga.


Siapa yang Diundang dan Mengapa Harus Hadir

Workshop ini cocok untuk:

- Petani skala kecil yang ingin diversifikasi komoditas.

- Ibu rumah tangga dan pemilik usaha rumahan yang mencari ide produk baru.

- Pemuda kreatif yang ingin mengembangkan startup pangan lokal.

- Pengelola UMKM kuliner yang ingin memperluas varian menu dengan bahan lokal.

- Penggiat pangan lokal dan pelaku ekonomi kreatif yang mencari kolaborasi produk.

Mengikuti workshop ini berarti membuka peluang baru, dari sekadar menanam jali di pekarangan hingga memproduksi tape dan puding bernilai jual yang dapat dijual sebagai camilan sehat, bahan oleh-oleh, atau produk katering kecil.


Detail Acara dan Fasilitas

- Tanggal: 26 Oktober 2025.

- Waktu: 09.00 WIB sampai 12.00 WIB.

- Lokasi: Sri Kumbang Resto.

- Fasilitas: bahan praktek disediakan dengan harga terjangkau, setiap peserta mendapat satu tiket undian doorprize gratis, modul sederhana berisi resep dan panduan budidaya.

- Pendaftaran: hubungi Nurbertus di No WA 0896-4855-6201

untuk reservasi tempat dan daftar Workshop.


Datanglah bersama teman atau mitra usaha supaya pengalaman belajar lebih kolaboratif dan peluang jejaring lebih berkembang.


Penutup dan Ajakan

Workshop Jali, Tanaman Pangan Alternatif ini bukan sekadar pelajaran teknis, ia adalah undangan untuk melihat kembali potensi sumber daya lokal dengan sudut pandang kewirausahaan. Dengan bimbingan Nurbertus dan Ayu, peserta akan belajar mengubah bulir jali menjadi produk yang tidak hanya lezat tetapi juga memiliki nilai jual. Jadikan 26 Oktober 2025 sebagai momen kebersamaan untuk bereksperimen, menambah keterampilan, dan membuka pintu peluang usaha yang ramah lingkungan serta bernilai ekonomi. Ayo hadir, serap ilmunya, praktikkan resepnya, dan bawa pulang inspirasi baru yang bisa ditindaklanjuti di rumah atau sebagai usaha sampingan.


(Nurbertus TN, Ayu & Kepanitiaan Sri Kumbang Award 2025)

Artikel ini telah tayang di Kompasiana

Workshop Anyaman Rotan CRM Craft Karanganyar

Workshop Anyaman Rotan CRM Craft Karanganyar

KLATEN-ngantilalicaraneturu.com

Kesan pertama melihat produk anyaman seringkali memikat, cantik, kreatif, dan menunjukkan ketelatenan tangan yang membuatnya. Dari warna, pola, hingga tekstur, anyaman membawa bahasa estetika yang sederhana namun penuh cerita. Setelah takjub, pertanyaan praktis akan segera muncul, kira-kira berapa harganya, bisa dipakai untuk apa, bagaimana proses pembuatannya, dan susahkah mencari bahan? Semua pertanyaan itu akan dijawab langsung oleh Sutiyono, pengrajin anyaman rotan dari CRM (Cahaya Rotan Mandiri) Karanganyar, seorang expert di bidang anyaman rotan dalam sebuah workshop yang ramah bagi pemula dan menginspirasi bagi pengusaha rumahan (13/10/2025).


Tentang Pembicara dan Nilai Workshop

Sutiyono bukan sekadar pengrajin profesional. kesehariannya bekerja sebagai quality control di sebuah home industri anyaman rotan, memberi dia pengalaman teknis dan wawasan pasar yang lengkap. Ia berasal dari Colomadu Karanganyar dan bekerja di Trangsan, desa wisata yang dikenal dengan tradisi anyamannya. Di workshop anyaman mendatang, Sutiyono akan berbagi cerita lapangan, trik praktis, serta metode pemasaran yang telah teruji. Anda tidak hanya belajar teknik anyam, tetapi juga mendapatkan panduan bagaimana menjadikan produk anyaman sebagai peluang usaha sampingan yang layak dan tidak menguras tenaga.


Apa yang Akan Dipelajari

- Dasar anyaman rotan: pengenalan bahan, alat dasar, dan pola-pola dasar yang mudah dipelajari.

- Teknik pengerjaan: langkah demi langkah dari persiapan bahan hingga finishing supaya hasil rapi dan tahan lama.

- Varian bahan: perbandingan antara rotan alami, sintetis, pandan, pelepah pisang, kertas daur ulang, dan klaim tali plastik agar peserta tau kelebihan dan keterbatasan setiap bahan.

- Penyelesaian produk: tips membersihkan, memperkuat, serta memberi sentuhan estetika seperti pewarnaan dan kombinasi bahan.

- Pemasaran praktis: strategi harga, kemasan untuk parcel atau gift, cara memotret produk untuk online, dan kanal penjualan yang cocok untuk produk anyaman skala rumahan.


Kenapa Workshop Ini Berbeda

- Praktis dan aplikatif: fokus pada teknik yang mudah diikuti dan cepat dipraktikkan di rumah.

- Pendekatan usaha rumahan: metode yang diajarkan menyesuaikan kebutuhan pebisnis skala kecil sehingga modal, tenaga, dan waktu tetap efisien.

- Bahan tersedia: Sutiyono menyediakan paket bahan anyaman dengan harga terjangkau sehingga peserta dapat langsung praktek tanpa repot mencari bahan.

- Kisah dan motivasi: selain teknis, peserta mendapat cerita nyata tentang tantangan dan solusi dalam usaha anyaman sehingga siap menghadapi kondisi pasar.


Siapa yang Cocok Mengikuti

- Pemula yang penasaran ingin mencoba kerajinan tangan.

- Pekerja yang ingin punya usaha sampingan tanpa mengganggu pekerjaan utama.

- Ibu rumah tangga yang ingin produktif dari rumah.

- Pengrajin kecil yang ingin memperbaiki mutu dan memperluas pasar.

- Penyelenggara acara atau usaha parcel yang mencari media kemasan unik dan bernilai tambah.

- Masyarakat umum dan banyak lagi.


Detail Acara dan Manfaat Langsung

- Waktu: Workshop singkat dari pukul 09.00 WIB hingga 12.00 WIB.

- Tanggal 26 Oktober 2025

- Lokasi: Sri Kumbang Resto.

- Keuntungan tambahan: setiap pendaftar mendapat satu tiket undian doorprize gratis, berhadiah menarik, menanti peserta yang beruntung.

- Hasil belajar: pulang dengan bekal pengetahuan, pengalaman praktik, dan minimal satu contoh karya anyaman yang dibuat sendiri.

- Biaya dan bahan: bahan disediakan oleh pengajar dengan harga terjangkau; peserta tidak perlu membawa bahan kecuali ingin pakai bahan sendiri.

- Daftar Workshop Gratis.


Ajakan Untuk Hadir

Datanglah dengan rasa ingin tahu dan tangan yang siap belajar. Workshop ini bukan sekadar kursus teknik, ia adalah undangan untuk menjadikan hari-hari Anda lebih bermakna lewat aktivitas positif dan produktif. Siapa tahu Anda menemukan bakat terpendam yang selama ini belum sempat dieksplorasi. Siapa tahu pula karya sederhana yang dimulai sebagai hobi bisa berkembang menjadi sumber penghasilan tambahan yang stabil.


Cara Daftar dan Kontak

Untuk ikut serta, daftarkan diri Anda sekarang agar tempat tidak terlewat. Pendaftaran gratis, mudah dan cepat, hubungi Ipunk di No Wa : +62 889-8021-0676

Bawa teman dan sahabat supaya belajar jadi lebih seru dan inspiratif serta menambah jaringan untuk peluang kolaborasi ke depan.


Penutup

Anyaman bukan hanya produk estetika, ia memuat keterampilan, kearifan lokal, dan potensi ekonomi. Workshop Anyaman Rotan CRM Craft membuka pintu untuk memahami lebih dari sekadar teknik, bagaimana merawat tradisi sambil mengolahnya menjadi peluang usaha yang relevan di masa kini. Jangan lewatkan kesempatan bertemu Sutiyono, bekerjasama, menyerap ilmunya, mempraktikkan tekniknya, dan pulang dengan karya serta semangat baru. Jadikan hari Anda lebih produktif, kreatif, dan bermakna dengan sebuah produk anyaman.


Kesempatan Terbatas

Sutiyono kedepan juga diundang untuk mewakili Indonesia menjadi narasumber dan berbagi ilmu pada event berskala Internasional di luar negri yakni Polandia.

6TH WORLD WICKER AND WEAVING FESTIVAL NOWY TOMYSL 2026

Back to the roots - 03 to 06 September 2026



Jadi jangan lewatkan kesempatan terbatas ini, yang belum tentu akan datang dua kali. Selagi Sutiyono masih di Indonesia dan kita bisa belajar lebih dekat pada workshop mendatang, tanpa jauh jauh ke luar negeri. Terima kasih atas waktu dan perhatian guna hadir dalam kegiatan Sri Kumbang Award #01 2025. Segera daftar karena tempat terbatas. Kami tunggu kehadiran anda guna belajar dan bersenang senang bersama.

Lokasi Workshop : Sri Kumbang Resto Lantai 2.

(Ipunk & Kepanitiaan Sri Kumbang Award 2025)

Artikel ini telah tayang di Medium.con

Minggu, 28 September 2025

Healing Perawat Puskesmas Jakenan Menemukan Energi Baru di OMAC Cokro

Healing Perawat Puskesmas Jakenan Menemukan Energi Baru di OMAC Cokro

Rombongan perawat UPTD Puskesmas Jakenan Pati melakukan perjalanan healing ke kawasan wisata Cokro, Klaten, pada Sabtu akhir bulan. Kunjungan itu memadukan permainan air beradrenalin, renang di mata air sebening kaca, dan santap kuliner tradisional, menghasilkan pengalaman pemulihan yang menyentuh fisik dan batin. Kejernihan umbul OMAC dan lintasan Cokro River Tubing menjadi pangkalan utama bagi rombongan yang mencari jeda dari rutinitas dan beban tugas penjaga kesehatan (27/09/2025)

Rangkaian Kegiatan wisata

Perjalanan dimulai sejak subuh dari Pati dan tiba sekitar pukul 10. Setelah sambutan hangat oleh komunitas pemandu Ngantilalicaraneturu, rombongan sempat menikmati keindahan mata air OMAC yang airnya menyerupai kaca sebelum bergabung pada kloter kedua river tubing. Aktivitas river tubing di Cokro menyajikan lima spot medan curam yang menantang dengan cekungan, arus deras, arus putar, dan jeram-jeram yang memacu adrenalin. Setelah sensasi arung yang memacu tawa dan teriakan, rombongan beralih ke umbul untuk berenang santai dan berfoto, lalu menutup hari dengan makan siang serta gathering di Semego Resto yang arsitekturnya menyerupai kapal pesiar.

Sensasi Healing dan Ikatan Sosial

Pengalaman air di Cokro tidak hanya soal adrenalin. Kombinasi aktivitas fisik dan interaksi kelompok menciptakan efek restoratif yang konkret. River tubing memberi ruang pelepasan stres melalui tawa bersama dan kerja tim menghadapi aliran, sedangkan renang di OMAC memberikan ketenangan sensory melalui kontak langsung dengan air jernih. Perawat melaporkan perasaan rileks, keterikatan kolegial yang meningkat, dan energi emosional yang terisi ulang. Kegiatan ini mempertegas bahwa healing untuk tenaga kesehatan efektif bila berbentuk gabungan rekreasi, olahraga ringan, dan kesempatan berbagi cerita.

Peran Pemandu Lokal dan Manajemen Keselamatan

Pemandu wisata seperti Pitut Saputra memegang peran kunci dalam menjaga alur kunjungan tetap aman dan teratur. Manajemen kloter yang disiplin memastikan kapasitas maksimal setiap batch tidak terlampaui, sehingga keselamatan menjadi prioritas utama. Pemandu memberi pengarahan teknis, mengawasi titik-titik jeram, dan memastikan peralatan keselamatan dipakai dengan benar. Pengelolaan yang baik dan komunikasi antar-tim mengubah potensi risiko menjadi pengalaman terkendali yang tetap memberi sensasi. Peningkatan fasilitas sederhana berupa papan informasi, tempat sampah memadai, dan penanda jalur akan menambah kenyamanan tanpa merusak ekosistem.

Konservasi, Etika Kunjungan, dan Pendidikan Singkat

Kunjungan rombongan menyoroti keseimbangan antara pariwisata dan pelestarian sumber daya air. Pemandu lokal tidak sekadar mengarahkan wisatawan di trek, tetapi juga mengedukasi singkat tentang sejarah sungai Pusur, etika kunjungan, dan pentingnya menjaga kebersihan mata air. Protokol sederhana yang diajarkan kepada pengunjung, seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan menghormati habitat tebing dan pepohonan di sepanjang trek menjadi kunci menjaga kejernihan OMAC untuk generasi mendatang. Kesadaran kolektif antara pengelola, pemandu, dan wisatawan menjadi modal utama untuk keberlanjutan destinasi.

Dampak Ekonomi Lokal

Kunjungan rombongan memberi efek ekonomi langsung bagi pelaku usaha setempat. Warung makan, penjual jajanan tradisional, pemandu, dan pengelola wahana merasakan peningkatan transaksi sepanjang hari. Kehadiran rombongan besar seperti perawat dari Pati membuka peluang pasar berulang bila pengalaman terasa aman, ramah, dan memuaskan. Pengembangan paket healing terjadwal untuk tenaga kesehatan atau kelompok institusi dapat menjadi sumber pendapatan stabil bagi desa wisata, asalkan dikombinasikan dengan protokol keselamatan dan standar pelayanan yang konsisten.

Harapan dan Rekomendasi

Kunjungan ini menunjukkan potensi Cokro dan OMAC sebagai destinasi yang menggabungkan rekreasi, terapi alam, dan penguatan ikatan sosial. Rekomendasi praktis meliputi penataan jalur kloter yang lebih efisien, pemasangan papan informasi edukatif, penambahan fasilitas sanitasi, dan program pelatihan lanjutan bagi pemandu lokal untuk standar keselamatan yang lebih tinggi. Kolaborasi berkelanjutan antara komunitas pemandu, pelaku usaha lokal, dan pemerintah daerah akan memperkuat peran kawasan ini sebagai ikon wisata Klaten yang memberi manfaat ekonomi sekaligus konservasi lingkungan.

Pada akhirnya, rombongan perawat UPTD Puskesmas Jakenan Pati pulang membawa energi baru, cerita bersama, dan foto-foto yang menandai keberhasilan agenda healing. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa ketika pariwisata dipandu dengan etika, manajemen, dan partisipasi komunitas lokal, alam bukan hanya objek rekreasi tetapi juga ruang pemulihan yang memberikan napas bagi kehidupan masyarakat sekitar. Cokro dan OMAC tetap memanggil mereka yang ingin mengisi ulang tenaga melalui air, alam, dan kebersamaan.

( FX Winanto / Ipunk )

Artikel ini telah tayang di 

Sabtu, 27 September 2025

Keindahan Mata Air OMAC Cokro dan Cokro River Tubing

Keindahan Mata Air OMAC Cokro dan Cokro River Tubing


Keindahan pesona wisata cokro dengan sungai dan mata air beningnya berikut view pemandangan alam asri di sekitarnya seakan menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan dan menjadikan kawasan sekitar Cokro menjadi salah satu destinasi favorit unggulan di kota klaten kota yang dikenal dengan julukan kota seribu mata air dan candi, pesona Jawa Tengah tersebut kini kian bersinar di setiap weekend atau akhir bulan (27/09/2025).

Hari ini team pemandu Ngantilalicaranecturu Tour guide community menerima rombongan tamu dari Perawat UPTD Puskesmas Jakenan Pati yang Healing Ke Cokro. Mereka sengaja hadir guna melihat langsung eksotisme Cokro dan sekitar serta menjajal berbagai wahana wisata air serta kuliner yang ada.

Ipunk tour leader pemandu dari Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community sedari pagi sudah bersiap bersama team guna menyambut rombongan. Dan akan memandu membawanya menjelajah pesona destinasi wisata Cokro dan sekitar. Menjajal aneka wahana permainan air serta memperkenalkan sekilas terkait sejarah sungai berikut object-object wisata yang ada di sekitar kali Pusur Cokro Klaten.

Rombongan yang berangkat dari Pati Jawa Tengah sekitar subuh pagi tadi sampai di lokasi tepat pada sekitar pukul 10 siang, selanjutnya setelah pertemuan dengan team ngantilalicaraneturu tour guide community rombongan langsung masuk object wisata Mata Air OMAC Cokro sejenak menikmati keindahan pesona bening mata air sembari menunggu jadwal trip river tubing bersama Cokro River Tubing pada kloter kedua.

Ipunk pemandu wisata Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community pada awak media mengatakan “Sebenarnya rombongan ini dijadwalkan bisa meluncur river tubing pada trip kloter pertama, namun karena keterlambatan akibat suasana jalan yang sedikit macet di akhir pekan maka akhirnya datang kesiangan, dan terpaksa ikut di jalur trek kloter kedua, karena setiap kloter maksimal 100 peserta.” terangnya

Pada trek Cokro River Tubing ini para peserta rombongan setidaknya akan menghadapi 5 spot Medan curam yang menantang adrenalin, ada cekungan, arus deras, arus putar dan jeram-jeram menantang yang membuat sedikit adrenalin naik, namun dibalik itu ada sensasi sendiri yang memaksa setiap peserta rombongan akan selalu terkenang dan rindu bermain river Tubing lagi pada liburan mendatang.

Agung salah seorang koordinator rombongan mengatakan Dirinya dan rombongan sangat puas menikmati healing kali ini, setelah puas bermain river Tubing rombongan kita kemudian diarahkan guna menjajal pesona wisata lain yakni berenang di sungai sebening kaca umbul OMAC serta terakhir menikmati wisata kuliner penganan khas tradisional daerah sekitar. Terima kasih pak Ipunk dan team Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community yang sudah ramah menyambut dan melayani sebaik mungkin, sehingga liburan kami, kali ini terasa lebih berkesan, pungkasnya

Objek wisata Mata Air OMAC menjadi sorotan karena kejernihan airnya yang menyerupai kaca dan kawasan umbul yang tertata rapi memberi ruang aman bagi pengunjung yang ingin berenang santai atau berfoto.

Sementara Cokro River Tubing menawarkan pengalaman berbeda berupa aliran sungai yang bervariasi, jeram menantang, dan pemandangan tebing serta hutan kecil di sepanjang trek sehingga cocok bagi mereka yang mencari sensasi dan keterkaitan langsung dengan alam.

Ipunk menegaskan pentingnya manajemen kloter dan keselamatan sehingga wisatawan mendapat pengalaman yang aman dan teratur.

Agung menambahkan bahwa kombinasi healing, permainan air, dan makanan tradisional membuat kunjungan ini bernilai restoratif dan sosial, terutama bagi rombongan perawat yang membutuhkan ruang pemulihan setelah tugas.

Pemandu lokal seperti Ipunk dan komunitasnya memegang peran penting dalam membangun pengalaman wisata yang berkelanjutan, memberi informasi tentang sejarah sungai Pusur, dan menjaga etika kunjungan agar alam tetap lestari.

Kunjungan rombongan Perawat UPTD Puskesmas Jakenan Pati ke Cokro menegaskan potensi kawasan ini sebagai tujuan wisata yang mampu menggabungkan rekreasi, terapi alam, dan penguatan kebersamaan. Dengan pengelolaan yang cermat dan partisipasi aktif komunitas pemandu lokal, OMAC dan Cokro River Tubing berpeluang menjadi ikon wisata Kabupaten Klaten yang membawa manfaat ekonomi dan konservasi lingkungan

Ipunk berharap kunjungan seperti ini menjadi contoh perjalanan wisata yang bertanggung jawab, memprioritaskan keselamatan peserta, dan mempromosikan pelestarian mata air. Menurutnya, peningkatan fasilitas sederhana seperti papan informasi, tempat sampah yang memadai, serta jalur penanda akan meningkatkan kenyamanan pengunjung tanpa merusak ekosistem

Agung menyoroti nilai pemulihan psikologis dari aktivitas air dan interaksi sosial dalam rombongan. Ia menyebut pengalaman river tubing memberikan ruang tawa bersama, mengurangi stres pekerjaan, dan mempererat solidaritas antar rekan kerja sehingga efek healing bukan hanya fisik tapi juga emosional

Secara ekonomi, kunjungan rombongan membawa manfaat langsung bagi pelaku usaha lokal. Warung makan, penjual jajanan tradisional, serta pemandu lokal merasakan peningkatan transaksi saat rombongan beristirahat dan berburu kuliner khas

Pengelola destinasi diharapkan terus berkolaborasi dengan komunitas para pemandu untuk menyusun protokol keselamatan, jadwal kloter yang efisien, serta program edukasi singkat tentang menjaga mata air agar generasi mendatang masih dapat menikmati kejernihan mata air OMAC Cokro.

Rombongan Perawat UPTD Puskesmas Jakenan Pati pulang membawa cerita, foto, dan kenangan segar. Ipunk dan Agung berharap kunjungan ini menjadi awal rutinisasi program healing bagi tenaga kesehatan, sekaligus panggilan bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk memelihara aset alam yang memberi napas bagi kehidupan lokal. Keindahan Cokro dan OMAC terus memanggil mereka yang ingin menyambung kembali energi melalui air, alam, dan kebersamaan. 


Pada akhirnya kunjungan ini meninggalkan jejak positif untuk masa depan wisata. Dan siap menanti pengunjung berikutnya yang ingin merasakan sensasi serupa yang tak terlupakan.

( Pitut Saputra )

Artikel ini telah tayang di Merdekapostnwws.com

Senin, 15 September 2025

One Day Trip bersama Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community

One Day Trip bersama Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community

Pagi yang masih sepi menyambut rombongan kecil dari divisi logistik dan distribusi produsen Sari Roti di Rembang. Mereka berkumpul dengan semangat petualangan, membawa tas ransel ringan, botol air, dan derap harapan untuk mengeksplorasi Klaten dalam satu hari penuh. Jalan raya masih lengang ketika kendaraan melaju meninggalkan keramaian kota pesisir, sementara bayangan hijau persawahan dan pepohonan meneduhkan mata. Di antara tawa ringan dan obrolan hangat, suasana akrab tercipta, menandai awal perjalanan yang hendak dipenuhi cerita dan kenangan (14/09/2025).


Usai menempuh perjalanan darat sejauh puluhan kilometer, nuansa Candi Plaosan mulai terasa saat pilar-pilar batu purbakala muncul di kejauhan. Jalan setapak yang dipenuhi dedaunan kering seolah mengantar setiap langkah menuju gerbang utama kompleks. Langit cerah memantulkan cahaya lembut di atas atap candi, mempertegas keagungan struktur berusia lebih dari seribu tahun itu. Rombongan pun berhenti sejenak, menghela napas, lalu menyiapkan kamera untuk merekam detail relief dan ornamen yang tak pernah lekang oleh waktu.

Candi Plaosan Lor berdiri megah di sisi utara sebagai bangunan utama yang dominan. Pilar-pilar dengan relief tokoh Buddha menari di bawah bayang pohon beringin memberi kesan hidup pada batuan tegar. Tak jauh dari situ, Candi Plaosan Kidul tampil lebih mungil, namun memiliki aura yang tak kalah anggun, seolah saudara kembar yang dipisahkan oleh jalan raya. Tawa riang dan kilau lensa kamera bergantian menangkap momen, lalu hening menyergap saat keruwetan ukiran mengundang kekaguman mendalam.

Ipunk, pemandu dari Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community, berbagi sedikit kisah pada rombongan terkait sejarah singkat di balik bangunan ini. Menurutnya, Candi Plaosan dibangun sekitar abad ke-9 Masehi atas perintah Raja Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya. Monumen ini merupakan simbol cinta dan keharmonisan dengan Pramudyawardhani, putri Dinasti Syailendra yang memeluk agama Buddha. Keberadaan dua kubah utama, Plaosan Lor dan Plaosan Kidul, mencerminkan perpaduan budaya Hindu dan Budha di satu kompleks yang sakral.

Rombongan mendengarkan dengan seksama saat Ipunk menjelaskan tentang filosofi ornamen dinding candi. Relief dewa-dewa Hindu dan tokoh Buddha yang terangkai seimbang disana, dimana seakan merayakan toleransi yang melampaui perbedaan keyakinan. Batu-batu pura yang menumpuk rapi menjadi saksi bisu dialog antar iman di masa lalu. Bangunan ini tidak hanya monumen arsitektur, melainkan jejak sejarah tentang persatuan sebuah kerajaan yang mengedepankan harmoni budaya.

Tak hanya nilai sejarah, Candi Plaosan menyimpan dimensi spiritual yang kuat. Setiap relief menuturkan cerita para dewa, manusia, dan alam semesta dalam satu kesatuan. Masyarakat di sekitar kompleks masih rutin menggelar upacara kecil untuk menghormati leluhur dan memohon berkah. Angin yang berhembus membawa aroma dupa, seolah mengajak setiap pengunjung merenung tentang makna kasih dan kebersamaan lintas zaman.

Setelah puas menyusuri lorong batu purbakala, Pungky, koordinator rombongan, mengumumkan kelanjutan petualangan menuju Mata Air Cokro. Perjalanan singkat menembus perkampungan dan hamparan sawah memperlihatkan sisi natural Klaten yang menawan. Suasana hening berbalut gemericik air jernih menyambut saat mereka tiba di lokasi. Cahaya matahari menari di permukaan sungai, menciptakan kilau yang menyejukkan hati setelah menatap kemegahan candi.

Di River Care Cokro 18, keseruan dimulai dengan wahana river tubing menantang. Aliran sungai yang tenang di beberapa titik berubah menjadi jeram ringan, membuat adrenalin terpacu sambil tetap aman untuk pemula. Beberapa peserta berani menelusuri lintasan berkelok, sementara yang lain memilih bersantai di gazebo bambu di tepian. Gemericik air yang menabrak pelampung menimbulkan tawa lepas, menghapus penat dan memberi kebebasan sesaat jauh dari rutinitas.

Perpaduan nektar sejarah di Candi Plaosan serta kesegaran alam di Mata Air Cokro membentuk harmoni tak terlupakan. Setiap ukiran dinding bercerita tentang cinta, keberagaman, dan pencarian harmoni, sedangkan aliran air mendedahkan sisi lembut bumi yang menyembuhkan. Rombongan seolah dibawa menembus lorong waktu, dari kilau batu purbakala ke gemericik jernih yang mengalir tanpa henti, menjadikan satu kesatuan perjalanan yang melampaui sekadar wisata sehari.

Menjelang pukul 11 siang digelar istirahat ishoma di Joglo Latar Tjokro, tempat bernaung dengan nuansa tradisional Jawa yang syahdu. Atap joglo yang lebar meneduhkan, sembari menyajikan hidangan ringan khas Klaten soto seger, gorengan, dan jahe hangat. Percakapan hangat terjalin antar anggota rombongan, membahas detail relief candi, keseruan river tubing, dan rencana leg terakhir menuju Rowo Jombor.

Saat senja mulai menjelang, rombongan melanjutkan perjalanan ke Rowo Jombor, danau rawa yang pinggir tepiannya dipenuhi eceng gondok serta pepohonan bambu. Perahu kecil telah menanti, siap membawa mereka menyusuri kanal sempit. Suasana magis muncul kala langit jingga memantul di permukaan air, ditemani kicau burung dan irama riak ringan. Panorama ini menutup rangkaian One Day Trip dengan kecantikan alam yang menenangkan jiwa.

Sebelum official tour guide berpisah, Ipunk membagikan tips bagi wisatawan yang ingin menyempurnakan perjalanan di Klaten:

- Bawa air minum dan topi lebar untuk menghadapi terik sinar matahari.  
- Datanglah pada pagi atau sore hari agar cahaya lembut menambah dramatisme foto.  
- Jelajahi pasar tradisional terdekat untuk mencicipi jenang khas dan jajanan tempo dulu.  
- Jangan ragu bertanya pada pemandu lokal tentang kisah rakyat di sekitar candi, sejarah, sungai, dan mata air.

“Selamat merencanakan petualangan wisata selanjutnya, dan jangan ragu mengontak tim kami Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community untuk memudahkan perjalanan Anda agar lebih berkesan dan tak terlupakan,” tutup Ipunk penuh semangat. Di balik lelah perjalanan, kepuasan terpancar di wajah setiap wisatawan yang terpesona oleh keindahan warisan sejarah dan alam Klaten.

( Pitut Saputra )

Artikel ini telah tayang di Medium.com


Pelepah Pisang Warisan dan Alternatif Peluang

Pelepah Pisang Warisan dan Alternatif Peluang KARANGANYAR-peristiwa24.com Pelepah pisang sering dipandang remeh sebagai sisa tan...